IHSG Sempat Terkoreksi Lalu Menguat, Pengamat Sebut Pasar Sedang Cari Keseimbangan

By Achmad Gojali 02 Feb 2026, 09:44:39 WIB Bisnis
IHSG Sempat Terkoreksi Lalu Menguat, Pengamat Sebut Pasar Sedang Cari Keseimbangan

Keterangan Gambar : dr. noviardi ferzi


JAKARTA, Kanalniaga.Com — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah pada perdagangan Kamis (29/1) sebelum kembali menguat pada Jumat (30/1) dinilai sebagai proses penyesuaian alami pasar di tengah dinamika sentimen global dan domestik.

Pengamat ekonomi Dr. Noviardi Ferzi menilai fluktuasi tersebut mencerminkan mekanisme normal pasar modal yang sedang mencari titik keseimbangan baru, bukan sinyal pelemahan fundamental ekonomi nasional.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG pada Kamis (29/1) ditutup melemah di level 8.232 poin atau terkoreksi lebih dari 1 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi sentimen global, aksi ambil untung (profit taking), serta kehati-hatian investor terhadap perkembangan ekonomi internasional.

Baca Lainnya :


Namun pada perdagangan Jumat (30/1), IHSG kembali menunjukkan perbaikan dengan dibuka menguat ke area 8.320-an poin. Penguatan ini mencerminkan adanya minat beli dari pelaku pasar setelah koreksi sehari sebelumnya.

Menurut Noviardi, naik-turunnya indeks merupakan karakter dasar pasar saham yang bergerak berdasarkan ekspektasi dan sentimen.

“Penurunan satu hari lalu diikuti penguatan hari ini adalah pola yang lazim. Ini menunjukkan pasar sedang melakukan penyesuaian dan mencari keseimbangan baru,” ujarnya.

Ia menambahkan, koreksi IHSG tidak selalu identik dengan memburuknya kondisi ekonomi. Dalam banyak kasus, pergerakan turun justru terjadi karena penyesuaian valuasi setelah periode penguatan, atau sebagai respons sementara terhadap isu eksternal.

“Selama indikator makroekonomi relatif stabil dan kinerja emiten tidak mengalami penurunan signifikan, fluktuasi tersebut masih dalam koridor yang sehat,” jelasnya.

Lebih jauh, Noviardi mengingatkan investor ritel agar tidak bersikap reaktif terhadap pergerakan harian indeks. Menurutnya, kepanikan jangka pendek sering kali justru menghasilkan keputusan investasi yang tidak rasional.

“Pasar modal menuntut kedewasaan. Naik-turun indeks adalah realitas yang harus diterima, bukan ditakuti,” tegasnya.


Dengan konsumsi domestik yang masih kuat, stabilitas sektor keuangan yang terjaga, serta kebijakan pemerintah yang mendukung pertumbuhan, Noviardi optimistis prospek IHSG dalam jangka menengah tetap positif.*** (Sumber :  TiNewss.com)




Video Terkait: