- Diduga Jadi Korban Kelalaian Petugas Palang Pintu KA, Kuasa Hukum Korban Akan Tuntut PT KAI dan PT KCI
- Asthara Skyfront City terus menunjukkan komitmennya sebagai kota modern masa depan
- IHSG Sempat Terkoreksi Lalu Menguat, Pengamat Sebut Pasar Sedang Cari Keseimbangan
- Pekerja Minta Bupati Tangerang Buka Lagi PT SLI di Balaraja
- Ijazah Alumni SDN Jombang 05 Diduga Hilang, Disdik Tangsel Bungkam
- DPRD Pastikan Tidak Ada Rencana Legalisasi Prostitusi dan Miras
- Pimpinan DPRD Kota Tangerang Apresiasi Imigrasi Berbakti dalam Peringatan Hari Bakti Imigrasi ke-76
- Wakil Ketua DPRD Kota Tangerang: Serapan di Bawah Target Jadi Alarm Serius
- Peluncuran Logo HUT Kota Tangerang ke-33, Rusdi: Pelayanan dan Kinerja Harus Dimaksimalkan
- Ketua DPRD Dukung Mukerda I MUI Kota Tangerang, Hasilkan Program Bermanfaat
Pekerja Minta Bupati Tangerang Buka Lagi PT SLI di Balaraja

Keterangan Gambar : Para pekerja PT Sukses Logam Indonesia (SLI) di kawasan industri Oleg, Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang
KANALNIAGA.COM KAB.
TANGERANG – Para pekerja PT Sukses Logam
Indonesia (SLI) di kawasan industri Oleg, Kecamatan Balaraja, Kabupaten
Tangerang, saat ini nasibnya terkatung-katung. Mereka tidak bisa bekerja
menyusul dihentikanya aktivitas pabrik peleburan logam tersebut oleh Bupati
Tangerang Moch Maesyal Rasyid sejak 17 Oktober 2025 lalu.
Salah satu pekerja PT SLI, Ade Majid mengaku, sejak
aktivitas pabriknya dihentikan tiga bulan lalu, kehidupan ekonomi keluarganya
morat marit. Selama itu juga dia bekerja serabutan untuk bisa memenuhi
kebutuhan sehari-hari keluarganya.
"(Sejak pabrik ditutup) Saya jaga portal bang di
kawasan industri, mencari sesuap nasi,"
ungkap Ade Majid saat ditemui di kawasan industri Oleg, Kampung Cengkok, Desa
Sentul, Kecamatan Balaraja, Sabtu (31/1/2026).
Baca Lainnya :
Ade Majid mengaku telah berkeluarga
dan dikarunia tiga anak. Dia sangat membutuhkan biaya untuk memenuhi berbagai
kebutuhan sehari-hari, terutama makanan yang bergizi.
"Biarlah bapaknya makan apa adanya, tapi tidak buat anak saya bang, mereka harus mendapat asupan yang bergizi," ujarnya.
Pria bertubuh gempal ini mengaku tidak mengerti dengan
kebijakan Bupati Tangerang, Moch Maesyal Rasyid yang tiba-tiba mengeluarkan
surat penghentian sementara aktivitas PT SLI, tempatnya menggantungkan hidup
bersama sekitar 110-an pekerja lainnya.
"Katanya pabrik
mencemari lingkungan bang, tapi lingkungan yang mana? Saya tinggal dekat
pabrik, tapi gak ada pencemaran, kami sehat-sehat saja," tutur Ade dengan mimik
wajah serius.
Untuk
membuktikan omongannya, Ade yang saat bekerja menjabat sopir forklif, mengajak
wartawan untuk melihat kondisi rumahnya yang berdempetan dengan PT SLI. Ade
bercerita, sebelum pabriknya ditutup bupati, kala itu dia bersama pekerja
lainnya tengah asyik bekerja di bagian produksi. Tiba-tiba pihak Manajemen PT
SLI memerintahkan seluruh pekerja untuk menghentikan kegiatan, mesin produksi
kemudian dimatikan.
"Kami tanya ke
manajemen ada apa ini, kok tiba-tiba kami diminta berhenti. Kata manajemen
pabrik, kita ditutup sama bupati," ungkap Ade Majid dengan mata menerawang tanpa
arah.
Ade
melanjutkan, manajemen kemudian mengumpulkan seluruh pekerja. Mereka
diperlihatkan surat dari Bupati Tangerang Moch Maesyal Rasyid bernomor 500.16.6.6/10401/X/DLHK/2025 tanggal 17
Oktober 2025 yang berisi tentang penghentian
sementara kegiatan produksi.
"Sudah lebih tiga
bulan ini bang kami tidak bekerja, tidak punya uang, kerja serabutan aja,
kadang manajemen (PT SLI) masih perhatian menyuruh kami bersih-bersih rumput
terus dikasih upah, tapi kan gak selamanya begitu bang, Kami ingin bekerja lagi
di pabrik ini, anak istri kami butuh makan bang," ujar Ade Majid dengan
nada lirih.
Senada
diungkapkan Reza Pramudia, pekerja PT
SLI bagian pengawas produksi ini mengaku heran dengan kebijakan bupati yang
dinilainya sepihak, dan menghentikan aktivitas pabrik tanpa mempertimbangkan
nasib ratusan pekerjanya.
"Yang namanya
sementara kan bisa dibuka lagi. Tapi ini sudah tiga bulan pak, tapi belum ada
tanda-tanda akan dibuka lagi. Kami ingin bekerja lagi pak, keluarga kami butuh
makan, kalau tidak dibuka lagi apakah pak bupati mau menanggung biaya hidup
kami?" tuturnya.
Reza
juga mengaku kerja serabutan selama tempatnya bekerja ditutup sementara. Namun
hasilnya tentu saja tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya
sehari-hari.
"Anak saya masih
kecil pak, masih butuh susu," imbuh Reza yang tinggal persis di samping PT SLI Kampung Cengkok RT 03/02, Desa
Sentul, Kecamatan Balaraja.
Dia
juga mengaku heran dengan isu adanya polusi bau dan kebisingan yang ditimbulkan
dari pabrik tempatnya bekerja. Menurut dia, ada pabrik lain yang justru tingkat
kebisingannya lebih tinggi namun tidak dipersoalkan.
"Saya yang
berhadapan langsung dengan pabrik merasa tidak ada hal-hal yang katanya bisa
membahayakan kesehatan," imbuhnya.
Reza
dan Ade serta ratusan pekerja PT SLI
lainnya kini hanya bisa berharap Bupati Tangerang Moch Maesyal Rasyid berlaku
bijak dengan segera mencabut surat penghentian sementara kegiatan produksi PT SLI.
Terlebih,
kata Reza, sebentar lagi mereka harus menghadapi bulan Suci Ramadan dan Hari
Raya Idul Fitri, yang tentunya biaya kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari
akan semakin meningkat.
"Tolong kami pak
bupati, tolong perhatikan nasib kami, kami mohon cabut surat penghentian
sementara pabrik tempat kami bekerja," imbuh mereka hampir berbarengan.
Ketika
disinggung apakah ada niat pindah bekerja, para pekerja PT SLI mengaku mereka memiliki keterbatasan baik dari sisi
akademik, usia maupun persyaratan lainnya yang kemungkinan tidak bisa diterima
perusahaan lain.
"Kalau di SLI mah
syaratnya cuma punya KTP Balaraja, apalagi kalau warga Kampung Cengkok, Desa
Sentul sekitar pabrik yang ngelamar, dan mau bekerja, pasti diakomodir," kata Reza.
Pengakuan
Reza Pramudia dan Ade Majid diakui Divisi HRD PT SLI, Doni. Dia menyatakan sekitar 75 persen pekerjanya berasal
dari warga sekitar pabrik, terutama dari 14 RT dan 3 RW Kampung Cengkok, Desa
Sentul.
"Beberapa pekerja
ada yang dari luar, tapi mereka ditempatkan sebagai tenaga ahli, selebihnya
berasal dari warga sekitar pabrik," ungkapnya.( ..)










